Hari-hari berikutnya, Lynx mengajari para pria Sinto cara menempa bijih besi menjadi senjata dan alat. Ia menggunakan batu besar sebagai landasan, dan palu sederhana yang ia buat dari bijih besi.

"Jangan hanya memukul sembarangan," kata Lynx sambil menempa bilah tombak. "Ikuti alurnya, bentuk bilah ini dengan lembut. Ketajaman adalah segalanya."

Leena, yang biasanya bekerja di tambang, mulai membantu menempa juga. Ia belajar dengan cepat, dan tombak pertama yang ia buat mengesankan Lynx.

"Kau punya bakat," kata Lynx sambil memeriksa tombak itu. "Kau pasti akan membuat senjata yang lebih baik dari aku suatu hari nanti."

"Kurasa itu pujian," balas Leena sambil tertawa kecil.

Beberapa minggu kemudian, perkampungan mereka berubah drastis. Pagar runcing berdiri kokoh, jebakan dipasang di sekitar perbatasan, dan senjata pertama mereka siap untuk digunakan. Lynx berdiri di tengah kampung, memandang para penduduk yang bekerja dengan semangat. Selain itu Lynx juga melatih mereka untuk bertarung. Dengan kemampuannya, Lynx bisa lebih jelas melihat kelemahan-kelemahan gerakan mereka dan memperbaikinya.

"Kita sudah melangkah jauh," kata Leena yang berdiri di sampingnya.

"Tapi ini baru permulaan," balas Lynx dengan tatapan serius. "Monrest tidak akan menyerah. Kita harus siap untuk melawan mereka, kapan pun mereka datang."

Leena mengangguk, matanya penuh tekad. Perkampungan ini mungkin baru, tapi harapan mereka untuk masa depan lebih kuat dari sebelumnya. Di tempat ini, mereka akan bertahan, dan mereka akan melawan.

Malam itu, perkampungan Sinto yang baru dibangun di bagian barat pulau tampak tenang. Api unggun menyala di beberapa sudut, dan para penduduk bersantai setelah bekerja keras memperkuat pertahanan dan memproduksi senjata. Lynx berdiri di atas menara pengawas, matanya mengamati hutan gelap yang mengelilingi mereka. Leena, yang baru selesai membantu memeriksa jebakan, bergabung dengannya.

"Kau terlihat gelisah," kata Leena sambil menyerahkan segelas air dari wadah bambu.

Lynx mengambil gelas itu, meminumnya perlahan. "Aku hanya merasa... sesuatu akan terjadi."

"Apa lagi yang bisa datang setelah Revan?" tanya Leena sambil tersenyum kecil. "Kita lebih siap sekarang."

Sebelum Lynx sempat menjawab, gemuruh rendah terdengar dari arah tambang. Getarannya terasa hingga ke menara, membuat beberapa penduduk terjaga dari tidur mereka.

"Lynx," gumam Leena, nadanya berubah serius.

"Monrest," kata Lynx dengan tegas. Dengan kemampuannya, dia dapat mendengar dengan lebih baik daripada manusia pada umumnya sehingga dia dapat mendengarkan suara-suara teriakan dari para penjaga. Ia segera turun dari menara, memberi aba-aba kepada penjaga lainnya. "Semua ke posisi masing-masing! Siapkan senjata dan pertahanan!"

Dari arah tambang, makhluk-makhluk besar mulai muncul dari hutan. Mereka adalah monster yang pernah Lynx hadapi sebelumnya—berukuran besar dan tidak proporsional, dengan lengan depan yang besar seperti kaki gorila, kulit hitam pekat terdapat bentuk seperti arang yang retak, dan tulang yang terlihat mencuat dari berbagai sudut tubuhnya. Terdapat luka pada salah satu matanya. Lynx tidak akan melupakannya karena memberi kesan yang dalam seperti monster dari mimpi buruk.  Ada tiga ekor, lebih besar dan lebih marah daripada yang pernah mereka hadapi sebelumnya.

"Mereka datang lagi," gumam Hadan, salah satu pemanah muda, dengan suara gemetar.

Lynx berusaha memperhatikan namun dia tidak menemukan satupun suku Monrest. "Apakah kamu yakin ini serangan dari suku Monrest?" Tanyanya.

"Aku tidak yakin, tapi makhluk seperti ini, bagaimana mungkin menyerang kita jika bukan makluk peliharaan mereka." Jawab Hadan dengan ketakutan.

Lynx segera keluar dari perkampungan untuk memeriksa keadaan, namun dia tidak menemukan suku Monrest. Lynx mengenali salah satu mahluk yang menyerang dia dan Leena sebelumnya. "Ini bisa menjadi latihan untuk suku Sinto," kata Lynx didalam hati.

"Bersiaplah!," kata Lynx dengan nada tegas. "Ingat rencana kita. Jangan panik, fokus pada tugas kalian."

Monster pertama mendekati pagar, menggeram keras sebelum menghantam kayu runcing dengan tubuhnya yang besar. Tapi kali ini, pagar yang dibuat dari kayu keras dan dilapisi besi berhasil menahan serangan itu. Ujung-ujung runcing yang telah diolesi racun menusuk tubuh monster, membuatnya menggeram kesakitan.

"Panah!" teriak Lynx. Para pemanah di menara mulai melepaskan panah berlapis racun ke arah monster. Meskipun sisik mereka keras, beberapa panah berhasil menembus bagian tubuh yang lebih lembut seperti leher dan sendi kaki.

Sementara itu, monster kedua melangkah lebih jauh ke perangkap jebakan. Tanah di bawahnya ambruk, dan tubuhnya terjebak di lubang yang penuh dengan kayu runcing. Monster itu mengamuk, tapi setiap gerakannya membuat kayu runcing semakin dalam menusuk tubuhnya. Dalam beberapa menit, gerakannya melemah hingga akhirnya diam.

Monster terakhir mencoba menyerang langsung ke perkampungan, menghindari pagar dan jebakan. Karim, bersama beberapa pria bersenjata tombak, menghadangnya di pintu masuk utama. Dengan strategi sederhana, mereka menyerang dari berbagai sisi, menargetkan titik lemah di tubuhnya. Tombak besi baru mereka terbukti cukup kuat untuk menembus sisik keras monster itu.

Dengan teriakan keras dari Karim yang menebas lehernya dengan parang besar, monster terakhir itu runtuh ke tanah, tidak bergerak.

Saat monster terakhir jatuh ke tanah dengan suara berdebam, perkampungan Sinto dipenuhi dengan sorak-sorai kemenangan. Para pemanah dan prajurit yang baru terlatih menuruni menara dan pos pertahanan mereka dengan ekspresi penuh kemenangan. Beberapa penduduk berlari untuk memeriksa jebakan, memastikan tidak ada kerusakan yang berarti.

Karim berdiri di tengah medan pertempuran, masih memegang tombaknya yang berlumuran darah. Ia tersenyum lebar, matanya bersinar penuh semangat. “Kita melakukannya! Mereka bahkan tidak bisa mendekati pusat kampung.”

“Ini luar biasa!” teriak salah satu pemanah muda. “Kita benar-benar lebih kuat sekarang!”

Leena, yang baru turun dari menara, mendekati Lynx. “Kau melihat itu? Mereka melakukannya dengan baik. Semua berkat rencana dan latihanmu.”

Lynx, yang berdiri dengan tenang di dekat pintu pagar utama, mengangguk kecil. “Mereka melakukannya dengan baik. Tapi kita belum boleh lengah.”

Karim mendekat, napasnya masih berat setelah pertempuran. “Lynx, ini jelas serangan dari Monrest, bukan? Makhluk-makhluk ini... mereka pasti peliharaan mereka.”

Lynx menggeleng, tatapannya mengarah ke tubuh salah satu monster. “Tidak, ini bukan ulah Monrest.”

Semua orang di sekitarnya terdiam. Karim mengernyit. “Apa maksudmu? Makhluk sebesar ini menyerang kita, tapi bukan dari Monrest?”

Lynx mendekati salah satu tubuh monster yang tergeletak. Ia berlutut, mengamati sisik-sisiknya yang keras dan mata merah yang kosong. “Aku mengenali yang ini,” katanya sambil menunjuk monster yang lebih kecil di antara tiga ekor itu. “Ini salah satu yang menyerang aku dan Leena saat kami pertama kali menjelajahi wilayah ini, kami berhasil melukai salah satu matanya. Mereka bukan peliharaan Monrest. Mereka adalah monster liar yang hidup di sekitar tambang dan hutan ini.”

Leena mendekat, ekspresinya berubah mengingat insiden sebelumnya. “Kau benar. Ini yang menyerang kita waktu itu. Tapi kenapa mereka menyerang kampung?”

“Mungkin kita masuk ke wilayah mereka,” jawab Lynx sambil berdiri. “Atau mungkin mereka hanya tertarik pada api dan suara dari perkampungan ini. Bagaimanapun, mereka tidak memiliki tanda-tanda peliharaan Monrest seperti monster yang kita lawan sebelumnya.”

Salah satu penduduk, seorang pria tua bernama Kirno, angkat bicara. “Kalau begitu... apakah ini kebetulan? Atau ini hanya permulaan?”

“Bukan kebetulan,” balas Lynx. Ia menatap semua orang di sekelilingnya. “Aku tahu monster ini hidup di sekitar sini. Itu sebabnya aku tidak langsung turun tangan. Aku ingin melihat kalian bertarung. Ini adalah latihan untuk kita semua.”

“Latihan?” tanya Karim dengan mata melebar. “Kau sengaja membiarkan kami bertarung sendiri?”

Lynx mengangguk, ekspresinya tegas. “Aku harus tahu sejauh mana kemampuan kalian setelah semua latihan dan persiapan yang kita lakukan. Dan dari apa yang kulihat hari ini, kalian berhasil. Kalian bukan hanya bertahan, kalian memenangkan pertempuran.”

Sejenak, suasana menjadi hening. Tapi kemudian Karim tertawa keras, suaranya menggema di sekitar perkampungan. “Kau sungguh gila, Lynx! Tapi aku harus mengakuinya, ini membuat kami merasa lebih percaya diri.”

Beberapa pria dan wanita lainnya mulai tersenyum, bahkan tertawa bersama. “Kita berhasil,” kata salah satu pria muda, menggenggam tombaknya dengan bangga. “Kita benar-benar berhasil.”

Leena menatap Lynx dengan mata yang penuh rasa kagum. “Kau percaya pada mereka lebih dari yang mereka sadari,” katanya pelan. “Dan sekarang, mereka percaya pada diri mereka sendiri.”

Malam itu, suasana di perkampungan Sinto dipenuhi rasa lega dan kebahagiaan. Para penduduk berkumpul di sekitar api unggun, membicarakan bagaimana mereka berhasil mengalahkan monster-monster itu. Beberapa pria memeriksa jebakan dan pagar, sementara yang lain membersihkan senjata mereka yang digunakan dalam pertempuran.

Karim duduk di dekat Lynx, memutar tombaknya sambil tersenyum kecil. “Aku harus mengakui, Lynx, aku tidak menyangka kita bisa melakukannya. Kau benar-benar membuat kami menjadi lebih kuat.”

“Itu bukan hanya aku,” balas Lynx. “Semua ini adalah kerja keras kalian. Aku hanya memberikan arahan.”

“Tapi arahan itu membuat perbedaan besar,” kata Karim sambil menatap tombaknya. “Dulu, kami bahkan tidak tahu cara memegang tombak dengan benar. Sekarang, kami mengalahkan monster sebesar itu.”

Leena bergabung dengan mereka, membawa segelas air dari wadah bambu. “Mereka bahkan mulai percaya diri melawan Monrest sekarang,” katanya sambil duduk di samping Lynx. “Tapi apa kau yakin mereka siap untuk itu?”

“Tidak ada yang pernah benar-benar siap untuk perang,” jawab Lynx sambil menatap api unggun. “Tapi kita harus percaya pada apa yang sudah kita bangun di sini. Ketika Monrest datang, kita akan siap.”

Meskipun suasana di kampung penuh semangat, Lynx tahu bahwa kemenangan ini hanyalah permulaan. Ia mengumpulkan para tetua dan beberapa pemimpin muda seperti Karim di sebuah tenda untuk berdiskusi lebih lanjut.

“Kemenangan kita hari ini adalah tanda bahwa kita bisa melawan,” kata Lynx dengan nada serius. “Tapi kita tidak boleh lupa. Monrest masih menjadi ancaman terbesar kita. Mereka tidak akan berhenti sampai kita hancur.”

“Tapi kita memiliki senjata, jebakan, dan pertahanan yang lebih baik sekarang,” kata Hadan, suaranya penuh keyakinan. “Bahkan monster seperti itu tidak bisa menembus pagar kita.”

“Benar,” jawab Lynx. “Tapi Monrest lebih cerdas daripada monster. Mereka akan belajar dari kekalahan mereka sebelumnya. Mereka akan datang dengan taktik baru, senjata baru, dan mungkin monster yang lebih kuat.”

Karim mengangguk pelan. “Apa rencanamu, Lynx?”

“Kita perkuat pertahanan kita lebih jauh,” jawab Lynx. “Dan kita terus berlatih. Setiap orang harus tahu perannya dalam pertempuran. Dan yang terpenting, kita harus tetap waspada.”

Malam itu, saat sebagian besar penduduk sudah tidur, Lynx berdiri di atas menara pengawas, matanya mengawasi hutan yang gelap. Leena mendekat, membawa segelas air lagi.

“Kau tidak akan berhenti berjaga, ya?” tanyanya dengan senyum kecil.

Lynx mengambil gelas itu dan meminumnya perlahan. “Aku tidak bisa. Bahaya selalu ada di luar sana.”

“Tapi kita lebih siap sekarang,” kata Leena sambil menatap bintang-bintang. “Apa pun yang terjadi, kita akan melawan. Bersama-sama.”

Lynx tersenyum kecil, meskipun matanya tetap tajam menatap ke depan. “Ya. Kita akan melawan. Dan kita akan menang.”


